Advertise Box

Showing posts with label Osama Bin Laden. Show all posts
Showing posts with label Osama Bin Laden. Show all posts
WASHINGTON - Kewaspadaan akan aksi balasan atas kematian pimpinan Al Qaeda, Osama bin Laden kian ditingkatkan pihak pemerintah Amerika Serikat. Menurut mereka, Al Qaeda memiliki rencana 'maut' guna membalas dendam.

“Bin Laden telah mati, tapi Al Qaeda belum. Kita harus bersiap menghadapinya,” kata Direktur Dinas Rahasia Amerika Serikat (CIA) Leon Panetta.


Peringatan Panetta itu bukan tanpa alasan. Beberapa hari sebelum digelarnya Operasi Elvis, julukan yang diberikan CIA terhadap operasi penyergapan Osama bin Laden, situs WikiLeaks membocorkan data tahanan terorisme di Guantanamo.

“Al Qaeda menyembunyikan sebuah bom nuklir di Eropa dan akan diledakkan bila Osama bin Laden tertangkap atau tewas,” demikian bunyi dokumen yang dilansir WikiLeaks seperti dimuat The Telegraph, Rabu (4/5/2011).

Bukan cuma bom nuklir, tapi Al Qaeda juga berencana memakai bom kimia. “Abu al-Libbi punya informasi tentang ini.” Abu Faraj al-Libbi (40), adalah kepala operasi Al Qaeda yang ditangkap pada 2005 setelah tinggal setahun di Abbottabad, kota tempat Osama disergap.

Pemerintah AS sendiri tak peduli dengan ancaman serangan balas dendam dari para pendukung Osama. Kemarin, Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton memberikan peringatan keras kepada kaum Taliban di Afganistan. “Anda tak bisa menunggu kami keluar (menyerang). Anda tak akan bisa mengalahkan kami,” kata Hillary. Dia meminta Taliban segera meninggalkan Al Qaeda dan masuk ke proses politik.

Hillary berkata keras setelah dia menyaksikan serangan fajar pasukan elite Angkatan Laut AS, Navy Seals yang menyerbu rumah Osama. Hilarry menyaksikan siaran langsung via satelit itu bersama Presiden AS Barack Obama dan sejumlah petinggi militer. Siaran itu menampilkan tayangan langsung yang didapat dari kamera yang ada di helm para prajurit di Abbottabad yang berjarak 11.200 kilometer dari Gedung Putih. Detik per detik operasi dramatis itu disaksikan Obama.

Pemeritah AS memang terus mewaspadai aksi balasan pascaterbunuhnya Osama. Pasalnya masih ada sejumlah gembong teroris yang belum tertangkap. Biro Penyelidik Federal (FBI) melansir setidaknya masih ada 10 teroris yang diburu pemerintah AS, termasuk Ayman al-Zawahiri (59). Ayman adalah orang nomor dua di Al Qaeda setelah Osama bin Laden. Dokter bedah ini punya beberapa nama samaran, seperti Abu Muhammad, Abu Fatima, dan Abu Abdallah. AS menghargai kepalanya sama dengan kepala Osama yakni 25 juta dolar AS.

Sementara itu, Kepolisian Inggris menangkap lima orang yang berada di dekat pembangkit nuklir Sellafield di West Cumbria pada Senin (2/5/2011) waktu setempat atau hanya beberapa jam setelah berita kematian Osama bin Laden. Kelima pria itu ditahan berdasarkan UU Terorisme Inggris.

Juru bicara kepolisian Inggris, mengatakan, kelima pria itu ditahan setelah mobil yang mereka naiki dihentikan polisi di luar PLTN Sellafield. Kelima pria itu berumur 20-an tahun dan tinggal di London.

Demikian seperti diberitakan AFP, Rabu (4/5/2011). Kelima pria itu langsung dibawa ke kantor polisi setelah mobil mereka diperiksa oleh polisi.

Saat ini kelimanya masih ditahan. Penyelidikan atas kelima orang itu tengah dilakukan oleh Unit Kontraterorisme North West. Kepolisian Metropolitan London juga menggeledah empat rumah di London sehubungan dengan penangkapan kelima teroris itu.
Foto jasad Osama bin Laden yang dikabarkan tewas oleh penyerbuan tentara Amerika Serikat yang beredar pada, Senin (2/5/2011) ternyata palsu. Foto itu merupakan hasil rekayasa gambar dengan menggunakan teknik Photoshop Dilansir dari situs The Telegraph, foto jasad Osama dipastikan diambil dari sebuah foto Osama sebelumnya. Luka-luka yang terdapat dari foto tersebut, diduga digabungkan dengan foto seorang korban ledakan bom, yang tidak disebutkan identitasnya. Foto itu sudah beredar di themedialine.org pada 29 April 2009.
Kedua foto ini, Osama dan korban bom, digabungkan sedemikian rupa dengan Photoshop menjadi satu gambar utuh yang menampilkan jasad Osama dengan luka tembak. Hal ini bagi seorang yang lihai menggunakan Photoshop sangat mudah dilakukan.

 
Foto ini pertama kali beredar di stasiun televisi Express TV di Pakistan, kemudian dilansir sejumlah kantor berita terkemuka, termasuk Associated Press dan AFP. Tidak jelas siapa yang mengambil foto tersebut, namun dikatakan bahwa foto itu adalah foto jasad Osama bin Laden yang tewas di tangan pasukan khusus AS.
Pemerintah AS sendiri belum mengeluarkan foto resmi jasad Osama kendati mengakui ada rencana untuk itu.
Dengan tidak adanya foto-foto, apalagi jasadnya cepat-cepat dikuburkan di laut, banyak orang yang belum percaya bahwa Osama benar-benar sudah tiada.
CIA project? Drug runner? Arsenal fan? Debunking the myths surrounding al-Qaida's leader

 
Osama bin Laden in Afghanistan during the war with Russia – though some say he never exposed himself to danger. Photograph: Sipa Press / Rex Features
 
Osama bin Laden
1. Osama bin Laden was 'created' by the CIA
He did not receive any direct funding or training from the US during the 1980s. Nor did his followers. The Afghan mujahideen, via Pakistan's ISI intelligence agency, received large amounts of both. Some bled to the Arabs fighting the Soviets but nothing significant.
2. He had a huge personal fortune
Bin Laden was forced to leave any cash he had when he in effect fled Saudi Arabia in 1991 for Pakistan and then Sudan. His family cut him off. Nor would the inheritance from his hugely wealthy father have been divided into equal parts anyway. What Bin Laden did have was contacts, which allowed him to raise money with ease.
3. He was responsible for 1993 bombing of World Trade Centre
Ramzi Yousef, who was the main perpetrator of the attack, was probably working for Khaled Sheikh Mohammed who was an independent operator at the time. Mohammed only started working with al-Qaida in 1996 and even then kept his distance from Bin Laden.
4. He got money from drug running
No evidence for this whatsoever despite repeated claims – such as in the post 9/11 British government dossier on al-Qaida.
5. He never exposed himself to any danger
He did not single-handedly seize a short-barrelled AK-47 from a dying Soviet general as he sometimes claimed but numerous witnesses report that he was in the thick of fighting in Jaji in 1987 and again at the battle of Jalalabad in 1989.
6. He spent a lot of time in caves
In the late 1990s, for propaganda purposes, Bin Laden invited select journalists to meet him in caves near Tora Bora in eastern Afghanistan. However he lived in a much more comfortable compound a short drive away, near the former Soviet collective farm of Hadda owned by a local warlord. By 1999 he had moved to a complex of houses near Kandahar. When he was killed, he was living in a relatively comfortable detached house in Abbottabad, Pakistan. In between, there is no evidence that he spent any time living in caves. The rest of al-Qaida's senior militants appear to have lived in the semi-fortified houses that are common in the tribal zones.
7. He was a tearaway teenager who partied in Beirut before becoming religious.
There is no evidence for this either. Bin Laden appears to have been an intense, shy and pious youth who married young and spent an inordinate amount of time studying scripture.
8. He was near to dying of a kidney disease.
There are some reports – not least in the Guantánamo files – of renal problems but certainly not serious enough to kill him. It is more likely he had back problems caused by his height (around 6ft 5in) and relatively sedentary lifestyle.
9. He hid in Kashmir, was the leader of Chechen groups, was responsible for violence in the Philippines and in Indonesia, organised the Madrid 2004 attack and had an extensive network in Paraguay, sub-Saharan Africa and South Africa.
All these claims, made by various governments or intelligence services over the last decade have proved totally without foundation.
10. Bin Laden was an Arsenal fan
Despite fans reportedly chanting "Osama, woah-woah, Osama, woah-waoh, he's hiding in Kabul, he loves the Arsenal", Bin Laden was not a faithful of the north London club.
Photos taken in the aftermath of the US raid on the house where Osama bin Laden was living in Abbottabad, Pakistan. Photograph: Stringer/Pakistan/Reuters
Barack Obama has blocked publication of gruesome pictures of Osama bin Laden's corpse, expressing concern that they might incite extremists to retaliate.
But Reuters, in a release not authorised by the US government, distributed disturbing pictures of three other men killed at Bin Laden's Pakistan hideout.
Obama, in an interview with CBS to be broadcast at the weekend, explained why he opted against publication of the Bin Laden picture. "It is important for us to make sure that very graphic photos of somebody who was shot in the head are not floating around as an incitement to additional violence," the president said.
Some, including within his own cabinet, had argued in favour of publication as proof that the al-Qaida leader was dead. But Obama said that even if the photos were published, there would still be those who would deny it. "The fact of the matter is you won't see Bin Laden walking on this earth again," the president said.
Security in New York and Washington, as well as at US bases and embassies around the world, has been stepped up to cover the event of any al-Qaida revenge attack.

wreckage

The debate over the pictures came after a difficult 48 hours for the White House, forced on to the defensive for offering conflicting accounts of the raid on Abbottabad which raised questions about the legality of the killing.
The pictures that were released provide a sense of the extreme violence employed by US Navy Seals as they stormed through the compound in the early hours of Monday. Two men lie in pools of congealed blood; a third lies prone with his arms flung over his head. Around are scattered hints of life before the Americans struck: computer cables, bedding, a tin mug and a plastic gun.
Survivors of the attack have been taken into custody in Pakistan, including Bin Laden's Yemeni-born wife, Amal Ahmed al-Sadah, and his 12-year-old daughter.
A Pakistani intelligence official said Bin Laden's daughter had claimed that her father had been shot in cold blood in front of her. But the official did not confirm a report by al-Arabiya news that the girl is claiming her father had first been captured and then shot, which would have been in breach of international law.
George Little, a CIA spokesman, denied Bin Laden had been held by US forces before being shot. "There is no indication that Bin Laden was somehow captured and later killed inside the compound. It would be wrong to suggest otherwise."
The US has not yet asked Pakistan for permission to speak to the family. Such a request could open up a fresh rift between the two nations. The Pakistan intelligence officer said if the US submitted a written request to interrogate the family, "given the [critical] statements coming out of Washington and the fact that this [raid] was not an operation we were involved in, we would not accept."
Questions about the legality of the killing have grown after the White House backtracked on Tuesday on its initial account of the mission and admitted that Bin Laden had not been armed.
The White House spokesman, Jay Carney, refused to provide further details. Asked whether the team that killed Osama had come under fire, Carney said the White House had gone to the limit in providing details and that any more would risk future operations. "I am not going to get into operational details," he said. Asked about the legality of the killing, Carney read from a prepared statement.
"The team had the authority to kill Osama bin Laden unless he offered to surrender, in which case the team was required to accept his surrender if the team could do so safely. The operation was conducted in a manner fully consistent with the laws of war. The operation was planned so that the team was prepared and had the means to take Bin Laden into custody. There is simply no question that this operation was lawful."
Eric Holder, the US attorney-general, giving evidence to a Senate committee, insisted it had not been a "kill" mission but "a kill or capture" mission. "If he had surrendered, attempted to surrender, I think we should obviously have accepted that, but there was no indication that he wanted to do that; and, therefore, his killing was appropriate," Holder said.
Andrea Prasow, a Washington-based spokeswoman for Human Rights Watch, said: "Our position is that we do not have enough information to determine whether the killing of Bin Laden was lawful. We hope the US government will provide a more detailed accounting of what happened, so we can understand if it was in fact lawful under either international humanitarian law (the so-called law of war) or under human rights law."
Philippe Sands, a University College London professor currently writing a book on the making of modern international law, said much would depend on the exact circumstances of Bin Laden's death. "If no one else was around, if they had him in a room unarmed and the building was covered, then it looks pretty bad," Sands said.
He added that the US would have an additional layer of defence under international law. The "doctrine of necessity" excuses wrongdoing if the actions taken can be demonstrated to be the only way to protect an essential interest, such as the lives of a large number of citizens.
Benjamin Ferencz, an American lawyer who was a US prosecutor at the Nuremberg trials and who lives in New York state, asked whether the killing was justifiable self-defence or premeditated illegal assassination. He would have preferred for Bin Laden to have been captured and put on trial.
Ferencz, 92, said: "The picture I get is that a bunch of highly trained, heavily armed soldiers find an old guy in pyjamas and shoot him in the chest and head, and that borders, without access to more facts, on murder." He added: "Even [the head of the Luftwaffe Hermann] Göring had a right to trial."
The rules of engagement for the Seal team made it unlikely that Bin Laden would have had much chance to surrender. The counterterrorism adviser at the White House, John Brennan, in an interview with Fox News, said he could only have surrendered if the team believed he did not pose a threat and were confident he did not have a bomb under his clothes.
Berita kematian Osama Bin Laden menjadi Top News hari ini, hampir disemua media penyiaran TV memuat berita tentang kematian Osama Bin Laden. Tambah ramainya berita ini menurut jawara,  ketika Presiden Amerika Serikat mengumumkan tewasnya pemimpin Al Qaeda yang menjadi buronan  Amerika Serikat yakni Osama bin Laden. AS sendiri telah mengejar Osama bin Laden sejak peristiwa World Trade Center lalu (9/11).

Siapa sangka sebelumnya, berita penyerbuan rumah persembunyian  Osama bin Laden sudah dilaporkan sebelumnya lewat twiter sejak awal.


Adalah Sohaib Athar, seorang yg tinggal di Abbottabad, Pakistan, yang tercatat sebagai pewarta pertama penyerbuan militer AS yang menewaskan Osama.  Pengguna  akun @ReallyVirtual melaporkan bahwa pada pukul satu dini hari, dia mendengar pesawat helikopter terbang di wilayah Abbottabad. Ini suatu peristiwa yang jarang terjadi.

"Helicopter hovering above Abbottabad at 1AM (is a rare event)," tulisnya , sekitar tujuh jam sebelum Presiden AS Barack Obama menyampaikan pernyataan resmi, hari Senin 2 Mei 2011 pagi. 

Setelah "Tweets" pertamanya itu, @ReallyVirtual langsung "didapuk" sebagai pewarta warga yang melaporkan langsung penyerbuan terhadap Osama melalui Twitter. Saat berita penyerbuan yang menewaskan Osama itu meledak di semua media, Sohaib baru menyadari bahwa dia menjadi satu-satunya orang yang melaporkan peristiwa tersebut, langsung dari tempat kejadian.

Dua jam setelah pengumuman resmi AS, dia melakukan Tweets lagi, "Uh oh, now I'm the guy who liveblogged the Osama raid without knowing it (saya adalah orang yang melaporkan langsung penyerbuan Osama, tanpa saya sadari)."

"I am JUST a tweeter, awake at the time of the crash. Not many twitter users in Abbottabad, these guys are more into facebook. That's all (Saya HANYA seorang pengguna Twitter yang bangun saat peristiwa itu terjadi. Tidak banyak pengguna Twitter di Abbottabad, mereka lebih banyak main di Facebook. Itu saja)," imbuhnya.

Tak pelak, penggemar dan pengikutnya bertambah banyak dalam waktu singkat. Orang pun berlomba-lomba me-retweet setiap kicauan yang dia tulis di Twitter. Bahkan tidak sedikit yang berkirim surat sampai membuatnya frustrasi. "For the people who are trying to email me to reach me, I simply can't filter out the notifications from the emails :-(," demikian @ReallyVirtual.

Sekitar dua jam lalu, seakan ingin menutup rangkaian kicauannya, dia menulis, "Bin Laden is dead. I didn't kill him. Please let me sleep now (Bin Laden telah mati. Saya tidak membunuhnya. Tolong biarkan saya tidur sekarang)."


Diam-diam ternyata pemimpin Al Qaida sudah menyiapkan surat wasiat sejak Desember 2001 ketika Amerika Serikat (AS) menyerbu ke persembunyiannya di Tora Bora, Afganistan. Demikian dilansir Sydney Morning Herald, Selasa (3/5/20110.

Isinya antara lain, ia memaksa anaknya yang berjumlah 11 orang itu tidak berjuang bersama Al Qaida. "Maafkan saya karena saya hanya memberikan sedikit waktu sejak saya menjawab panggilan jihad," tulisnya.

Dalam surat wasiatnya itu juga, Osama kembali mengulang penghinaan terhadap negara-negara Barat terutama gaya hidup dan pergaulan. "Hey perempuan. Jangan pernah menggunakan kosmetik atau meniru para pelacur perempuan dari negara Barat".


Ia juga mendedikasikan penghargaan terhadap keempat istrinya. "Dari hari pertama, kalian tahu jalan ini penuh rintangan. Kamu meninggalkan kesenangan dengan keluarga dan memiliki kehidupan keras denganku," tulis Osama di surat wasiatnya.
Osama bin Laden selalu digambarkan sebagai sosok yang keras. Berbaju loreng atau bersorban dengan bedil di sebelahnya. Tak pelak, foto-foto yang menebar ke seluruh dunia itu, menentukan gambaran orang tentang sosok Osama. Dan semenjak dituduh sebagai otak serangan 11 September terhadap Menara Kembar di Amerika Serikat, kian kukuh lah gambaran sebagai sosok yang keras itu.

 
Osama sesungguhnya manusia biasa. Yang cinta keluarga, masa muda penuh gaya dan gemar plesir bersama saudara-saudaranya ke Eropa. Hal yang tidak sulit dilakukan sebab ayahnya adalah seorang miliarder.
Pemimpin tertinggi Al Qaida ini terlahir dengan nama Usamah bin Muhammad bin Awwad bin Ladin di Jeddah, Arab Saudi pada 10 Maret 1957. Osama merupakan putra dari pasangan Muhammad bin Awad bin Ladin dengan istri kesepuluhnya, Hamida al-Attas. 
Lahir dari keluarga kaya di Arab Saudi, Osama yang merupakan anak ke 17 dari 52 bersaudara ini dibesarkan dalam kemewahan. Dalam foto-foto, yang ada di foto ini, terlihat pula anak Osama yang masih hidup dalam kemewahan.
Sejumlah foto juga memperlihatkan masa muda Osama saat berusia belasan tahun. Di usia itu, belum terlihat jenggot lebat dan raut muka tegas nan keras, yang selama ini menjadi sosok menakutkan bagi Negara Paman Sam.
WASHINGTON - Amerika Serikat meralat cerita bahwa Osama bin Laden, pemimpin Al-Qaeda membawa senjata dan menembaki pasukan Amerika sebelum ia ditembak tewas.

Pada hari Senin, John Brennan, seorang penasihat kontraterorisme kepada Barack Obama, menyatakan dengan sangat meyakinkan bahwa Bin Laden  "terlibat dalam pertempuran" dengan penyerangnya.  Pejabat AS lainnya diberitahu bahwa ia menembaki anggota pasukan elit angkatan laut AS, Seal Team Six.

Namun, briefing berikutnya oleh pejabat AS menyatakan saat diserbu di Abbottabad, Bin Laden tidak memiliki senjata dan tidak menembakkan apapun  pada penyerang itu. Dengan beberapa pertanyaan yang diajukan seperti mengapa Bin Laden ditembak mati,  Brennan mengatakan: "Jika kami memiliki kesempatan untuk mengambil Bin Laden hidup-hidup, jika ia tidak ada ancaman apapun, individu yang terlibat telah mampu dan siap untuk melakukan itu. "

Pejabat terus menyiratkan ia menawarkan resistensi sebelum dia ditembak tetapi belum mengklarifikasi tingkat perlawanan itu, mengingat bahwa ia tampaknya tidak memiliki senjata. Bin Laden ditembak sekali di atas mata kiri dan sekali di dada. Pemerintahan Obama sedang mempertimbangkan apakah akan merilis foto penguburan di laut.

Ada perubahan tambahan dengan narasi asli yang ditawarkan oleh para pejabat AS. Wartawan awalnya diberitahu bahwa salah satu istri Bin Laden terbunuh ketika ia sedang menggunakan dirinya sebagai perisai hidup, dengan menyebut "Osama bin Laden tewas meringkuk di belakang istri sebagai 'perisainya". Tapi kemudian dijelaskan bahwa istri Bin Laden tertembak di betis dan tidak mati dalam serangan itu, meskipun wanita lain terbunuh. Perubahan keterangan ini menimbulkan pertanyaan tentang apakah istri Bin Laden - atau siapapun - telah digunakan sebagai perisai manusia.

Selain "mengubah" kondisi istri Bin Laden, para pejabat AS juga telah berubah nama mana anak-anaknya tewas dalam serangan itu. Anak yang meninggal itu awalnya bernama  Hamza, dijelaskan dalam satu artikel ini sebagai "ahli waris" Bin Laden untuk memimpin al-Qaeda. Namun, Brennan mengatakan selama briefing bahwa itu adalah anak lain, Khalid, yang terbunuh.

Soal kenapa info itu berubah, dengan enteng Brennan menjelaskan bahwa beberapa informasi datang dari video live  dari serangan itu. "Saya tidak ada di sana," katanya.
Mendiang Osama bin Laden yang kematiannya disyukuri sekaligus diratapi orang-orang dari kelompok berbeda itu, menyisakan banyak cerita. Ada yang benar, ada yang dusta. Inilah daftar 10 mitos, dengan demikian cerita dusta, tentang lelaki dari Arab Saudi itu.

1. Osama bin Laden “bikinan” CIA. Ia maupun pengikutnya tidak pernah menerima dana langsung maupun pelatihan dari Amerika Serikat selama dasawarsa 1980-an. Penerima sejumlah besar kedua jenis sokongan Amerika itu adalah Mujahidin Afghanistan melalui badan intelijen Pakistan, ISI. Sejumlah orang keturunan Arab memang bertempur melawan pasukan Soviet tetapi jumlahnya tidak signifikan.

2. Ia punya kekayaan pribadi yang sangat besar. Bin Laden terpaksa meninggalkan uang tunainya ketika harus pergi dari Arab Saudi tahun 1991 ke Pakistan, kemudian Sudan. Keluarganya memotong aksesnya sama sekali. Dia juga tidak menerima warisan dari ayahnya yang sangat kaya, dan telah dibagi-bagi. Yang dimiliki Bin Laden adalah jaringan yang memungkinkannya menggalang dana dengan mudah.
 
3. Ia bertanggungjawab atas pengeboman Word Trade Centre tahun 1993. Ramzi Yousef, pelaku utama serangan itu, mungkin bekerja untuk Khaled Sheikh Mohammed yang merupakan operator independen pada saat itu. Muhammad mulai bekerja dengan Al-Qaeda pada 1996, dan bahkan kemudian menjaga jarak dengan Bin Laden.

4. Ia mendapat uang dari bisnis narkoba. Tidak ada bukti sejauh ini meskipun ada klaim yang diulang-ulang, misalnya dalam berkas pemerintah Inggris tentang pasca serangan 11 September dan Al-Qaeda.
5. Ia tidak pernah terlibat pertempuran berbahaya. Dia tidak sendirian ketika menyita senjata AK-47 dari seorang jenderal Soviet yang mati, sebagaimana kadang dia akui. Namun, banyak saksi melaporkan tentang keberadaannya di tengah-tengah pertempuran Jaji pada 1987, dan pertempuran Jalalabad pada 1989.

6. Ia lebih sering di gua. Pada akhir 1990-an, demi propaganda, Bin Laden mengundang jurnalis tertentu untuk menemuinya di goa dekat Tora Bora di Afghanistan timur. Namun sebetulnya, ia tinggal di sebuah kompleks yang jauh lebih nyaman, dekat lahan pertanian di Hadda, bekas wilayah Uni Soviet, milik seorang panglima perang lokal.
Menjelang 1999, ia pindah ke sebuah kompleks perumahan dekat Kandahar. Sebelum terbunuh, dia hidup di rumah nyaman yang terpisah tetapi dekat kompleks itu di Abbottabad, Pakistan. Selama itu, tidak ada bukti ia tinggal di gua.

7. Ia remaja yang suka pesta di Beirut sebelum berubah jadi relijius. Tidak ada bukti soal itu sejauh ini. Bin Laden tampaknya pemuda yang tekun, pemalu dan saleh serta menikah muda dan banyak menghabiskan waktu untuk belajar kitab.

8. Dia nyaris sekarat karena penyakit ginjal. Ada beberapa laporan — termasuk dalam dokumen Guantanmo — mengenai masalah ginjal tetapi tentu saja tidak cukup serius untuk menewaskannya. Penyakit itu agaknya lebih karena ada masalah dengan punggungnya akibat posturnya yang tinggi (6 feet 5 inchi = 1,9558 meter) dan gaya hidupnya.

9. Ia bersembunyi di Kashmir, sebagai pemimpin gerilayawan Chechnya, dan bertanggungjawab atas kekerasan di Filipina dan Indonesia, merancang serangan di Madrid, Spanyol, tahun 2004 dan memiliki jaringan luas di Paraguay, wilayah sub-sahara Afrika dan Afrika Selatan. Semua klaim itu dibuat oleh pemerintah sejumlah negara atau badan intelijen selama lebih dari satu dasawarsa yang terbukti seluruhnya disusun tanpa dasar.

10. Bin Laden adalah penggemar klub sepak bola Arsenal. Meskipun ada laporan fans Arsenal meneriakkan, “Osama, woah-woah, Osama, woah-woah, ia bersembunyi di Kabul, ia mencintai Arsenal”, tetapi Bin Laden bukan penggemar setia klub sepak bola dari London utara itu.
Pemerintah Amerika Serikat (AS), melalui Presiden Barack Obama hanya menyatakan bahwa Osama bin Laden tewas dalam suatu operasi khusus. Namun, berdasarkan sumber-sumber anonim di tubuh intelijen dan militer, media massa AS gencar memberitakan bahwa operasi di Pakistan itu dilakukan pasukan elit Angkatan Laut AS, Navy SEAL.
Stasiun televisi ABC News mengungkapkan bahwa sekitar 20-25 anggota Navy SEAL, bekerja sama dengan agen intelijen CIA, menyerbu masuk suatu rumah bertingkat di kota kecil Abbottabad, Pakistan, Minggu dini hari 1 Mei 2011.

Navy SEAL terdiri atas sejumlah grup, dengan tugas-tugas yang spesifik. Namun, menurut National Journal, kelompok penyerbu Osama itu berasal dari SEAL Team Six, yang bernama resmi Naval Special Warfare Development Group.Biasa disingkat DevGru, tim itu berpangkalan di Dam Neck, negara bagian Virginia, AS. Tim itu selalu ditugaskan untuk melakukan operasi anti teror di mana saja. Mereka mendapat perintah langsung dari Presiden AS, melalui Komando Operasi Khusus Gabungan (JSOC).
Itulah sebabnya, menurut kantor berita Associated Press, Obama dan sejumlah pejabat tinggi AS memantau langsung operasi penggerebekan Osama selama sekitar 40 menit melalui jaringan video digital di Gedung Putih.
Menurut mantan penembak jitu Navy SEAL, Richard “Mac” Machowicz, pasukan elit itu biasa menggunakan senapan serbu yang terkenal praktis, namun daya tembaknya diyakini lebih akurat, yaitu M4 Carbine dan AR-15 ArmaLite.

                                                                         M4 Carbine
 
Senapan serbu itu merupakan varian dari M16, yang merupakan senjata standar militer AS. Bedanya dengan M16, kedua senapan itu lebih ringkas, sehingga membuat pengguna bisa bergerak dengan cepat sambil menembak sasaran.


                                                                       AR-15 ArmaLite

“Namun, SEAL bisa menggunakan senjata apa saja. Bila mereka dapat, dan mereka suka, pasti mereka gunakan,” kata Mac seperti dikutip ABC News. Dalam penyerbuan SEAL, Osama dikabarkan tewas seketika setelah ditembak di kepala.
Mac memperkirakan bahwa senjata yang dipakai SEAL untuk operasi Osama itu menggunakan peluru berkaliber besar. “Ada tipe-tipe senjata yang mampu memuntahkan beberapa peluru kaliber .45 yang dapat ditembakkan ke sasaran sambil bergerak,” kata Mac, yang kini mengasuh suatu acara televisi “Deadliest Warrior” di Spike TV.
Ada juga senjata yang bisa memuat peluru kaliber .50, yang disebut dengan “Beowolf.” Peluru kaliber itu mampu menembus blok mesin mobil dari jarak tertentu.
Operasi SEAL saat itu kemungkinan besar dipandu oleh teknologi satelit, baik yang ditransmisi dari pesawat nirawak maupun langsung dari satelit di luar angkasa. Helm para tentara dipasang kamera super mini yang terhubung dengan satelit.
Dengan teknologi itu, pimpinan operasi, termasuk Presiden Obama sendiri, bisa mengetahui detik demi detik situasi yang dipantau anak buah di lapangan. Pasukan di lapangan juga bisa secara cepat mendeteksi ancaman maupun mencari target.
Mac juga mengungkapkan bahwa SEAL menggunakan peralatan serbu seperti granat kejut flash bang stun grenade. Senjata yang tidak mematikan ini untuk memberi tekanan psikologis kepada target saat diserbu di suatu ruangan.
“SEAL ingin mendominasi secara fisik dan mental di suatu ruangan yang mereka masuki,” kata Mac. “Saat itu juga kami bakal terkejut dan mereka bakal melakukan sesuatu dengan serba cepat,” lanjut Mac.

Mungkin ini yang menjadi alasan mengapa Osama bin Laden tidak juga tertangkap hingga kini. Seperti yang diuraikan WikiLeaks dalam dokumennya, yang diduga memiliki kebenaran di balik kelambanan daripada aksi yang dilakukan Amerika Serikat di Afghanistan dalam satu dekade ini.

Padahal sudah lama tentara AS ingin menangkap hidup-hidup teroris nomor wahid tersebut dan mengirimkannya ke penjara Guantanamo Bay, Kuba. Namun kebocoran baris terakhir mengungkapkan bahwa Al-Qaeda memperingatkan untuk memicu "Hellstorm nuklir" (bom nuklir) jika jika Osama bin Laden ditangkap atau dibunuh.

Penjelasan tersebut menjadi rasional ketika melihat kelambanan daripada aksi AS di Afghanistan. File WikiLeaks menunjukkan bahwa senior Al-Qaeda Khalid Sheikh Mohammaed, yang telah ditangkap dan tengah menjalani pemeriksaan, mengungkapkan bahwa jejaringanya telah "menumpahkan kacang" (baca: bom atom). Sebab, kelompok teroris yang sebenarnya, telah menyembunyikan bom nuklir di Eropa dan akan diledakkan jika Osama bin Laden ditangkap atau dibunuh.

Khalid Sheikh Mohammed merupakan salah satu orang yang mengaku merencakanan penyerangan World Trade Center pada 11 September 2001 lalu yang menyebabkan tiga ribu warga AS meninggal. File rahasia itu juga menunjukkan detail interogasi terhadap lebih dari 750 tahanan di penjara Guantanamo Bay, Kuba.

Dokumen rahasia lainnya dalam file tersebut menyebutkan bahwa Al-Qaeda merencanakan serangan kimia dan biologi di London dan juga telah membuat sketsa untuk menaruh bubuk sianida di AC beberapa kantor publik AS. Dokumen tersebut juga mengungkapkan bahwa kunci dari kepemimpinan Al-Qaeda berada di Karazhi, Pakistan. Pada saat serangan WTC 11 September 2001 ia menonton langsung penyerangan di New York dan Pentagon.

Sumber: uk.ibtimes.com
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Followers